Terlalu Rumit

     Pagi,,bersama hari ketiga pada bulan November. Bagaimana surat kemarin? kenapa tidak kau jawab, terlalu sulitkah sehingga tak terbalaskan? Aku hanya bertanya apa kau bosan dengan semua tentang aku? Aku hanya bertanya saja, mungkin saja kau bosan hanya tak kau suarakan saja. Jangan buat aku selalu merasa bahwa hanya aku yang berjuang dalam melawan rindu. Aku tahu kita memang dekat malah seatap, mungkin orang akan berfikir kita berumah tangga denagan kata "seatap". Bukan, kita hanya dua orang yang terlalu bawa rumit dalam hal rasa.

    Untuk mengobrol saja, situasi mesti aman bukan? seperti pencuri yang sedang menjaalankan misi terberatnya. Kau tahu situasi ini sangat menyebalkan! makin hari pikiranku tak membiarkan kau masuk meski untuk melambaikan sederet kenangan dulu. Kau tahu hariku hanyalah repetisi yang sangan mengenyangkan logika. Menyebalkan! Hariku kini rumit bersama bualan bualan mereka yang terlalu mempersulit masalah, entahlah aku muak dengan cara mereka menangani masalah. 

    Kau tahu,,aku masih teringat dengan pernyataan yang kau lemparkan padaku tahun lalu bahkan beberapa bulan yang lalu. Kala itu kau bilang untuk apa mengerti cinta hal positif tak negatif iya. Masih ingatkah kau tentang itu? atau kau memeng sengaja untuk membuatku terlihat bodoh didepanmu. Aku memang terlalu naif,, masih sedia menerima cinta dan harapan darimu sekarang. Aku pun tak tahu motif apa yang kau sembunyikan sekarang. Rumit memang,,tapi entahlah hatiku selalu saja tak ingin tak hiraukan kau.

    Mungkin hati menyangka ketika dirinya kembali patah karena perlakuanmu kala nanti, tak apa. Hati akan selalu membiarkan pikiran berjaalan untuk kembali bangkit meskipun butuh waktu yang lama. Entahlah aku hanya menuruti apa hati saja tanpa tahu bagaimana nanti perjuangan pikiranku dalam menyembuhkan hati. Ahh,,serumit inikah menjalani hari dengan mengharap balasan yang sama darimu? Ternyata memang rumit yang akhirnya membelit semakin lilit.

Komentar