Entah mengapa nalar ku kini otomatis mengingat kejadian malam itu. Atmosfer di ruangan itu seakan-akan mengundangku untuk masuk pada alurnya. Diriku tak mampu menentang tuntutannya. Seolah-olah mereka tlah berkomplot untuk membuatku meratap sendiri. Bahkan aku tak sadar dengan sekelilingku, faktanya ruangan ini penuh dengan aspirasi dan argumentasi mereka kan sutu hal. Beda dengan diriku yang kini terhasut oleh hal lain. Entah dimana daya pikir ku kini. Nalarku kini hanya mengingat hal terpahit, hingga mengasut bulir dimataku keluar secara perlahan. Asalnya aku bisa menahan jatuhnya buliran air dimataku, hanya saja ketika kuingat satu nama itu rasanya tembok yang kudirikan runtuh seketika.
Ya! entah karena aku terlalu over akan dirinya. Semua rasa pahit kutelan dan kurenggut malam itu. Semua kejadian yang telah berlalu pun kutelan kala itu. Entah apa penyebabnya, hanya karena nama itu daya pikirku kini mengingat kejadian terpahit saja. Aku tak sadar entah berapa lama aku menangis di bawah benda hijau yang temanku simpan. Aku sadar temnaku berusaha menenangkan, tapi percuma dia pun bingung mengapa aku tiba2 begini. Aku tahu perasaannya, dia kebingungan melihatku seperti ini seolah-olah aku tlah mengalami kejadian yang sangat menyakitkan.
Hingga pada akhirnya aku sadar, disisiku kini hadir sosoknya. Ya! sosok yang namanya tadi teringat seketika. Entah kapan dia datang, kau tahu kehadiranmu membuatku semakin tak berdaya. Kehadiranmu membuatku semakin menjadi, bahkan kehadiranmu membuatku bersalah karena arah yang kujarah ini salah. Bukannya aku benci hadirmu, hanya saja kala itu nalarku tak berjalan seperti biasanya. Daya pikir ku kini tak mampu melihatmu. Kau tahu? jauh dialam bawah sadarku, senyumanmu buatku ingin melupakan segalanya. Aku lupa hal itu, tanya dan ketenanangan darimu memang mempan untukku yang berada di alam bawah sana tapi tidak dengan diriku yang sedang kau tatap itu.
Yang kau dengar aku baik-baik saja kan? ada alasan dibaliknya. Aku tahu kamu tahu benar ada kilas alasan dibaliknya. Hanya saja kau pura-pura tak tahu. Terimakasih atas senyuman dan ketenanganmu malam itu. Hanya saja aku minta maaf, karena tak memberi feedback yang seharusnya kau dapat. Aku malah mengacuhkanmu dengan senyuman yang aku tampilkan dengan pura-pura. maaf ya, aku belum siap bercerita tentang luka. Aku tak mau luka ini menjadi beban buat kamu nanti. Untuk saat ini, Kupikul saja sendiri hingga nanti aku lelah akan hal ini. Sabar ya, dalam melawan temperamen diriku yang nantinya berubah-ubah ini.
Komentar
Posting Komentar