Maaf Katanya

        Hari ini,,tepat jam 08.09 suasana sekelilingku masih sama seperti biasanya. Dipenuhi bualan-bualan mereka yang tiap hari kudengar dan kumakan. Ahh rasanya ingin ku bisukan mulut mereka agar tak bersuara lagi seperti kicauan burung di luar sana. Sambil mendengarkan kicauan burung dari mereka ku arahkan mataku untuk sekilas melihat pada suasana diluar jendela sana. Diluar sana daun mulai berirama, anginlah pelakunya. Suara kendaraan bermotor samar-samar terdengar, matahari pun mulai menyusup di sela-sela jendela tepat di sebelah kananku. 
        Bagaimana dengan diriku? yahh sama seperti biasanya, dipadati dengan tugas yang sangat mengenyangkan logika. Hariku adalah repetisi seperti hari lainnya. Malam itu kami semua bersepakat untuk saling memafkan. Entahlah mungkin karena salah satu dari kami telah puas membalas makanya membuat kesepakatan itu. Aku setuju saja, bahkan sudah menjadi tradisi kami seperti ini. Maaf,, kata yang sangat lumrah bagi manusia di bumi ini. Kata yang terkadang buat orang mengulangi kesalahannya lagi. Maaf hanya pencitraan semata,,kataku.
        Terkadang saat maaf kau utarakan, saat itu pula hitungan kesalahan akan kau lakukan. Mungkin memang kodratnya, diluar sana mungkin banyak tak setuju dengan keputusan ini. Tergantung pendapat mereka saja. Entah berapa ribu kata maaf terdengar, saking lumrahnya aku saja tak ingat. Beribu kata maaf terutarakan, sama saja beribu kesalahan dilakukan bukan? begitu juga dirimu. Berapa maaf yang kau utarakan padaku? bisa kau hitung? mungkin saja tak bisa. Terkadang diriku juga bosan mendengar maafnya. Tapi apa daya,jika ada kata selain maaf didunia ini dari dulu sudah dilakukan bukan?
        Kamu pernah bilang, Maaf karena telah membuatmu selalu menunggu dan sabar meskipun sakit selalu melilit. Kau ingat? mungkin saja kau lupa, karena aku tahu kau bukan pengingat,seingatku.. bagaimana sekarang maafmu?akan kau utarakan lagi? aku harap bumi ciptakan alat untuk aku tak pernah bosan mendengar maafmu. Tapi, namanya juga wanita akan luluh dengan kata maaf, apalagi dari orang yang menurutnya istimewa. Kebanyakan wanita seperti itu, termasuk aku. Sebanyak apapun kesalahan kamu lakukan, ketika maaf kau utarakan dengan rasa ketulusan aku akan selau maafkan. Mungkin mereka menganggap aku bodoh karena terlalu percaya pada maafku.
        Aku terlanjur menitipkan perasaan padamu tanpa tahu kau bisa menjaganya atau tidak. Kupercayai saja, tentang kau jaga tidaknya itu masalahmu. Aku tak bisa memaksa. Sudah ya, hari ini ceritaku berakhir sampai sini saja. Aku akan mengenyangkan logika seperti biasanya, ya! tugasku tlah hampir di sudut pesanku. Selamat mengenyangkan logika! untuk kamu siang nanti😄

Komentar